Pages

Operator Bak Musuh Dalam Selimut


INILAH.COM, Jakarta – Tahukah Anda, operator seluler mengetahui lokasi rumah, situs yang dikunjungi, aplikasi yang diunduh, video yang sering ditonton, bahkan lokasi Anda saat ini?

Beberapa operator mulai menjual informasi berharga tersebut pada penawar tertinggi. Misalnya yang dilakukan operator besar, Verizon Wireless, sejak Oktober lalu. Mereka mengubah kebijakan privasi sehingga bisa merekam data lokasi pelanggan serta riwayat browsing Web pengguna.

Memadukan data ini dengan informasi pribadi seperti usia atau jenis kelamin dan menjualnya secara anonim, bisa amat berguna dan menguntungkan pihak ketiga. Pemilik bisnis, contohnya, bisa mengetahui tempat terbaik untuk membuka toko jika membeli laporan pemasaran Verizon mengenai area tertentu.

Verizon menjadi operator pertama yang secara terbuka mengkonfirmasi penjualan data pelanggan untuk bisnis. Namun, bukan hanya mereka. Terdapat tiga operator nasional Amerika Serikat (AS) lainnya yang menggunakan informasi pelanggan untuk membantu pihak luar.

Meski begitu, operator lain yang disebut seperti AT&T, Sprint dan T-Mobile bersikeras data pelanggan tak pernah benar-benar diserahkan pada pihak ketiga. Tetap saja, ketiganya mengeruk uang dari aktivitas tersebut. Lihat saja program AdWorks AT&T yang mempromosikan data pelanggan AT&T.

Pada situs AdWorks, AT&T memamerkan kemampuan menjangkau segmen konsumen berdasarkan demografi anonim dan agregat. Operator ini lalu menunjukkan kupon pelanggan yang disesuaikan secara hati-hati di iklan aplikasi dan Web.

Sama halnya dengan Sprint. Menurut juru bicara Jason Gertzen, Sprint melacak jenis situs yang dilihat pelanggan pada perangkat mobile serta aplikasi apa yang mereka gunakan. Data itu digunakan untuk membantu pihak ketiga beriklan membidik pelanggan.

Sementara T-Mobile menolak memberi tahu jenis informasi yang mereka bagi atau jual serta menyebut kebijakan privasi mereka. Sepertinya T-Mobile bersih. Namun, jubirnya mengakui, mereka mengumpulkan informasi mengenai situs yang dikunjungi pelanggan serta lokasi mereka.

Mantan teknisi DoubleClick Brian Kennish yang mengembangkan jaringan server iklan mobile periklanan mencatat, perusahaan nirkabel telah lama berbagi data lokasi pengguna dengan pihak ketiga. “Mungkin selama lebih dari satu dekade terakhir,” katanya.

Keberadaan smartphone menjadi sebuah harta karun data berharga tak disengaja bagi operator. Gadget ini begitu personal, dengan perangkat pelacak yang mengetahui lebih banyak hal mengenai pemiliknya dibanding produk lain di pasar.

Penyedia layanan nirkabel pun mengeruk keuntungan dari tambang emas ini. "Pada akhirnya, pelanggan merupakan produk dan perusahaan nirkabel penjualnya,” kata profesor ilmu komputer Nasir Memon di Polytechnic Institute New York University.

Penyedia layanan, lanjutnya, menciptakan taman bermain untuk menarik orang dan menjualnya pada pengiklan. “Orang-orang adalah bisnis baru mereka. Ada banyak uang di pasar iklan lokal,” lanjutnya.

Hasil studi BIA/Kelsey per Maret memprediksi, pendapatan iklan lokal AS akan mencapai US$42,5 miliar (Rp380,8 triliun) per tahun pada 2015. Direktur eksekutif Center for Digital Democracy Jeff Chester menyebutnya sebagai gold rush era digital.

“Verizon memang yang pertama mengaku, tapi mereka semua melakukannya. Tiap orang menyadari pertumbuhan besar dalam ekonomi digital mobile dan layanan berbasis lokasi. Semua pemain industri yang terlibat menggunakan informasi pelanggan untuk tujuan itu,” pungkasnya. [vin]

Read Users' Comments (0)

0 Response to "Operator Bak Musuh Dalam Selimut"

Posting Komentar